I'm Just An Ordinary Woman ^_^

Tuesday, September 30, 2014

My Grape World: Bibit Anggur dari Biji, Kenapa Nggak?!


Dalam iklim tropis seperti negara kita ini, tanaman anggur ini bisa dibilang agak unik. Mungkin karena nature-nya merupakan tanaman negara 4 musim, jadi segala sesuatunya perlu treatment khusus. Termasuk perbanyakan bibit secara generatif alias dari biji. Beberapa teman mengeluhkan susah sekali untuk membiakkan tanaman anggur dari biji, tetapi ada juga yang lempar-lempar biji di pot aja bisa tumbuh (tetanggaku bilangnya begitu, ditaruh di pot begitu aja sudah tumbuh. Bener2 beruntung..hehe.. tp sayang, selanjutnya pertumbuhannya kurang dijaga.. ^_^).

Sementara pengalaman saya sendiri, sempet gemes juga membiakkan biji anggur ini. Pake rumus tetangga, dilempar-lemparin ke pot, ga tumbuh. Pake direndem sehari semalem, ga tumbuh juga. Terus dicelupin pemutih baju, tetep mogok. Akhirnya dari share informasi sama temen-temen grup dan ,tentu saja, bisikan dari mbah google, percobaan pembiakan biji yang ke sekian kalinya membuahkan hasil yang bisa dibilang cukup memuaskan.  Dari sekitar 50 biji yang disemai, sekitar 80% bisa sprout semua. Faktor yang agak mempengaruhi sepertinya masa dormansi biji. Di negara 4 musim, tanaman anggur mengalami masa dormansi atau "tertidur" ketika musim dingin tiba. 

Untuk biji, terminologi dormansi ini lebih pada terhambatnya pertumbuhan embrio karena pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam biji. (sumber: wikipedia). Karenanya, untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan perkecambahan biji anggur ini diperlukan perlakuan-perlakuan khusus untuk mematahkan dormansi tersebut.
Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menghambat dormansi antara lain:
•  Dengan perlakuan mekanis
Tujuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas. Diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, memecah kulit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus.
•  Dengan perlakuan kimia
Tujuan dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah. Bahan kimia lain yang sering digunakan adalah potassium hidroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat dan Thiourea. Selain itu dapat juga digunakan hormon tumbuh antara lain: Cytokinin, Gibberelin dan iuxil (IAA).
•   Dengan perlakuan perendaman dengan air.
Perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih. Caranya yaitu : dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu 60 - 70 0C dan dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu. Untuk benih apel, direndam dalam air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2 menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan.
•   Dengan perlakuan suhu
Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembap (Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan. Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman, bahkan antar varietas dalam satu famili.
•   Dengan perlakuan cahaya
Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari. 
(sumber: wikipedia)

Hasil sharing dengan teman-teman grup BDTA maupun PTA, langkah-langkah penghambatan di atas hampir semua pernah dilakukan untuk mengecambahkan biji anggur kecuali perlakuan cahaya. Perlakuan mekanis dilakukan dengan memotong ujung biji sekitar 2mm, perlakuan kimia dilakaukan dengan merendamnya dalam cairan pemutih baju, perlakuan perendaman air dilakukan pada air hangat dengan ditambahkan perangsang akar alami yaitu bawang merah, dan perlakuan suhu yang dilakukan dengan menyimpannya di lemari es. Dari langkah-langkah tadi, saya sudah mencoba menerapkan langkah 1 dan 2 tapi hasilnya belum memuaskan.

Dengan mengandalkan penerawangan mbah google, saya komat-kamit menyebutkan kata "how to grow grape seed" dalam menyan mbah google. Hasil penerawangan mengarah ke situs wikihow. Dengan bekal hasil terawangan tersebut dan dipadu dengan tips temen-temen di grup BDTA dan PTA, saya melakukan percobaan dengan langkah berikut:



  • Kupas kulit ari biji anggur, bersihkan dan rendam selama 24 jam

Pengupasan kulit ari

  • Tiriskan biji anggur dan tata di atas tissue yang sudah dibasahi.
  • Tutup tatanan biji tadi dengan tissue yang dibasahi (menyerupai sandwich isi biji anggur..hehe..)
  • Masukkan 'sandwich' tadi dalam plastik, tutup rapat dan simpan di lemari es (jangan disimpan di freezer) selama minimal 1 bulan.
  • Setelah 1 bulan, keluarkan biji dari 'sandwich' tadi dan rendam dalam air hangat selama 30 menit.
  • Selanjutnya rendam dengan air bawang merah selama kurang lebih satu jam, tiriskan dan pendam dalam cocopeat (serbuk kulit kelapa) lembab dan simpan dalam suhu kamar sampai biji sprout.
  • Kurang lebih selama 1 minggu, biji sudah sprout dan bisa dipindahkan ke media tanam di seed tray atau langsung di polibag.
Biji anggur sprout dan siap disemai
Dengan langkah eksperimen tersebut, prosentase perkecambahan biji mencapai 80%. Hanya saja, saya kurang mengerti faktor mana yang memicu keberhasilan perkecambahan tersebut, pengupasan kulit ari kah, penyimpanan dalam kulkas, perendaman air hangat ataukah perendaman air bawang. Selama eksperimen tersebut, ada sisa biji yang lupa ditreatment sampai kurang lebih 3 bulan tersimpan di lemari es. Kondisi biji tersebut sudah jamuran. Akhirnya saya buang-buang aja ke pot, ternyata malah banyak yang sprout... Wah! 

Bibit anggur dari biji sering dinilai sulit untuk dibuahkan dan kalaupun berbuah berbed dengan varietas induk. Bagi hobiis yang menginginkan gen asli dari suatu varietas tentu menghindari pembibitan dari biji. Tetapi bagi hobiis yg ingin dapat surprise varietas baru tidak ada salahnya mencoba pembibitan biji ini. Mengenai sulitnya dibuahkan, Alhamdulillah..saya mempunyai pengalaman manis tentang itu. Pertengahan tahun 2012 saya membeli seed anggur varietas Pione dari seller di Banyuwangi. Seed semata wayang ini berhasil tumbuh subur setelah diground di halaman dan dalam waktu 1 tahun pohonnya udah gondrong kemana-mana. Saya mencoba untuk menerapkan rumus SPAP yang biasa dipake temen2 di grup. Tetapi rupanya saya salah dalam melakukan pemotongan/prunning. Berdasarkan contekan di grup maupun di youtube, batang yang kusisakan terlalu banyak. Saya terlalu sayang untuk memotongnya..hehe...

Akhirnya, sekitar akhir Juli lalu, batang2 kembali dipangkas, disesuaikan dengan itung-itungan batang cordon, spur, etc (pola prunning dr videonya mr. Roy Carobnjak), meski dr segi jumlah bud sebenernya masih kebanyakan..hehe...

Alhamdulillah... Meski ada kesalahan teknis dalam SPAP maupun prunning, akhirnya ada penampakan srinthil dari si Pione. Kini srinthil tersebut sudah berusia hampir 3 minggu. Mudah-mudahan varietasnya menyerupai atau lebih baik dari induknya.. Aamiinn..


Jadi, tidak ada salahnya mencoba membibitkan anggur dari biji kan?!
Selamat mencoba.. ^_^

Monday, September 8, 2014

My Grape World: Terjangkit Virus PengAnggurAn

Anggur.... Entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta sama tanaman merambat yang satu ini. Yang jelas, saat ada yang pamer foto tabulampot anggur di sebuah akun blogspot, aku langsung kesengsem. Kebetulan si empunya blog ini supplier anggur di Banyuwangi. Pemiliknya lumayan komunikatif dan sangat welcome saat ditanya pernak-pernik merawat anggur. Tahap awal beli bibit dalam bentuk cutting (stek) 10 biji untuk jenis red prince (prabu bestari) dan 5 biji jenis maroo seedless. Tiap pagi ditengokin, begitu tunasnya sprout hati ini rasanya berbunga-bunga...hehe...

Tumbuh kembang si red prince dan maroo ini semakin hari semakin baik. Namun saat ditinggal tugas luar kota, suami laporan kalo semua bibit cutting tiba-tiba layu, entah penyebabnya apa. Saat itu tinggi tunas sudah mencapai 30 cm-an.. hiks.. Kembali menjalin komunikasi dengan empunya blog. Diduga penyebabnya adalah pupuk kandang (pukan) dari pupup kambing yang masih berbentuk butiran2 alias belum terfermentasi sempurna.. Olala....

Semakin penasaran dengan makhluk satu ini, pengadaan bibit pun dilakukan lagi. Kali ini mencoba dari biji. Sebab, untuk mendapatkan bibit cutting harus menunggu masa pemangkasan lebih dulu. Biji-biji tersebut merupakan varietas dari negeri sakura yang buahnya lumayan gede per butirnya. Sebagai percobaan awal, yang dibeli varietas Kyohoo, Pione, Oriental Star dan satunya lagi lupa..hehe... Dari petunjuk penyemaian di blog tersebut sepertinya mudah, tinggal direndam selama 24 jam terus disemai diatas tissue yang dibasahi dan ditaruh di wadah tertutup. Hasilnya.... dari 20 biji disemai, yang tumbuh cuma satu, si Pione.. alamakkkk.....

Lumayanlah ada yang bisa dipiara. Tunas semata wayang, Pione, pun dipindah ke polibag. Beberapa minggu kemudian pertumbuhannya terlihat stagnan. Sepertinya butuh media yang lebih besar. Akhirnya diputuskan bibit pione ini di-ground atau ditanam di halaman saja. Setelah pindahan rumah, si pione pun di-ground. 

Awal masa pasca ground sempet ketar-ketir. Rupanya baby pione ini menarik perhatian anak-anak kecil yang main-main di sekitar rumah. Entah karena gemes, bentuknya lucu atau apa, daun pione pun diprunthesi... hyaahh.... hahaha... Alhamdulillah, setelah diprunthes, pertumbuhan pione malah semakin ngacir. Sekarang usianya sudah hampir 2 tahunan. Pione sudah menunjukkan tanda-tanda mau berbuah walaupun cuma menghasilkan satu malai bunga saja. Karena konon kabarnya bibit dari biji susah untuk dibuahkan. Dan konon kabarnya pula, bibit dari biji bisa sama sekali berbeda dengan induknya. Mudah-mudahan saja hasilnya bisa lebih bagus dari induknya... Aamiinn...

Malai bunga Pione -bibit dari biji-
Setelah bergabung dengan grup tanaman anggur di facebook, referensi varietas dan teknik merawat anggur pun semakin banyak. Dan penyakit demam anggur yang kuderita pun semakin akut...hehe...Di grup ini para anggota saling berbagi informasi varietas, pengalaman, tips, dan  bibit anggur (thank you so much to my dear friends in BDTA and PTA, semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahanNya buat sahabat-sahabat semua). Berkat gabung di grup ini, koleksi pun bertambah. Jenis manicure finger, pione dan apirena seedless (baru aja sprout graftingannya) mulai menghiasi rumah. Sementara itu, varietas black magic masih harap-harap cemas, menunggu perkembangan hasil graftingan seminggu yang lalu. Saya tidak menyangka concern sahabat-sahabat terhadap tingginya buah impor di Indonesia ternyata begitu besar. Semoga grup ini menjadi langkah awal untuk meningkatkan produktivitas komoditas anggur yang unggul sehingga dapat mengurangi laju impor buah dan menambah lapangan kerja di Indonesia .. Aamiinn... 

Monday, August 26, 2013

Fotografiku: Mencoba Memahami Segitiga Emas Fotografi

Beberapa artikel fotografi mengatakan bahwa inti dari fotografi digital adalah harmonisasi dari tiga komponen dalam kamera digital yaitu ISO, aperture (bukaan/diafragma) dan shutter speed (kecepatan pemetik/klik) atau lebih dikenal dengan segitiga emas fotografi*1. Bila membaca definisi dari masing-masing komponen tersebut, seorang penggemar fotografi pemula seperti saya ini sangat sulit untuk bisa mengejawantahkannya dalam praktik. Apalagi harus membaca kode-kode satuan dimana salah satu komponen tersebut ada yang kode satuannya terbalik yaitu aperture (f/1 = bukaan lebar; f/22 = bukaan kecil).
Untuk memahami fungsi dari tiga komponen tersebut, ada sebuah artikel (saya lupa penulisnya siapa hehe...) menganalogikan kamera seperti sebuah kamar dengan satu jendela. Analogi ini benar-benar membantuku untuk memahami fungsi ketiga komponen tersebut.

ISO
Fungsi ISO ibaratnya seperti tingkat kegelapan kaca film yang digunakan jendela. Semakin rendah ISO maka semakin gelap kaca film yang digunakan.

Aperture
Fungsi aperture ibaratnya lebar tidaknya jendela. Semakin lebar jendela maka semakin banyak cahaya yang masuk. Fungsi lain dari aperture yang tidak bisa dianalogikan dengan jendela adalah depth of field (dof) atau lebar tidaknya ruang tajam dalam gambar. Bukaan aperture yang lebar akan mempersempit ruang tajam dalam gambar sehingga background objek akan semakin kabur (blur).

Shutter Speed
Fungsi shutter speed seperti kelambu yang ada di jendela. Ibaratnya seperti seberapa cepat kita membuka-tutup kelambu jendela tersebut. Semakin lambat kita membuka-tutup maka semakin banyak cahaya yang masuk ke kamar. Tujuan lain dari shutter speed ini adalah untuk menangkap pergerakan objek sesuai yang kita mau, apakah kita membekukan gerakan objek yang kita rekam (freeze) ataukah kita ingin ada bayangan gerakan objek (smooth).

Untuk mengaplikasikan ketiga komponen ini, saya lebih suka menentukan prioritas komponen apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang kuinginkan. Misalnya, lagi hunting objek air terjun, aku menginginkan aliran air terjun tertangkap seperti kapas yang terurai dari atas. Maka prioritas fungsi komponen yang diperlukan adalah shutter speed yang rendah. Implikasi dari fungsi ini adalah melambatnya "klik" akan mengakibatkan banyak cahaya yang masuk dan gambar akan menjadi terlalu terang. Untuk mengurangi efek tersebut, dibutuhkan ISO yang paling rendah (100) dan aperture yang paling kecil (f/29). Hal lain yang perlu diperhatikan dalam kondisi ini adalah kamera harus steady, ga boleh goyang saat kita mencet shutter. Seandainya ada dana lebih, maka bisa melakukan pengadaan tripod dan shutter release (lebih asyik lagi yang wireless..hehe..). Saya pernah bereksperimen dengan ini dengan mencoba meng-capture aliran sungai di daerah wisata Grape, Kabupaten Madiun. Waktu itu siang bolong dengan cuaca cerah ceria penuh pesona... Ini agak menyulitkan karena cahaya objek melimpah ruah, padahal yang dibutuhkan adalah shutter speed lambat. Untungnya ada awan tipis yang sejenak melintas di atas kepala. Dengan settingan shutter speed 1/6, aperture f/25 dan ISO 100, kudapat lah hasil seperti ini.


Jauh dari memuaskan.... Gambar terlalu bright dan aliran air kurang smooth. Ada yang miss saat aku memotret ini. Aku tidak tahu kalau kamera yang kupakai punya aperture paling kecil f/29... -_-
Pun begitu, seandainya kupasang f/29 sepertinya masih kurang memadai untuk menghasilkan aliran air yang lembut karena aku masih harus menurunkan kecepatan shutter speed. Lain kali jika menghadapi kondisi seperti ini, kayaknya lensaku butuh "kacamata hitam" alias filter ND (neutral density) seperti yang disarankan seorang teman.
*padahal cita2 beli lensa tele sama flash eksternal aja belum kesampean....hadehhh..... *

Eksperimen yang kedua adalah efek "sok makro" seperti yang diulas di postingan sebelumnya. Bila sebelumnya saya kebanyakan mengambil obyek di luar ruangan, kali ini saya mencoba untuk memotret dalam ruangan. Yang menjadi "korban" kali ini adalah bengkoang yang (tak sengaja) bertunas. Prioritas utama adalah dof yang sempit alias aperture harus paling lebar. Tantangan motret dalam ruangan adalah noise karena ISO yang terlalu tinggi. Apabila diluar ruangan, aku bisa menggunakan shutter speed tinggi dan ISO paling rendah. Kalo dalam ruangan? tunggu dulu.. prioritas kedua setelah aperture adalah ISO. Untuk menghasilkan gambar yang halus, kuusahakan ISO tidak lebih dari 400. Langkah terakhir adalah men-setting shutter speed. Berikut hasil "sok makro" yg coba kupotret dengan "senjata"ku yang pas-pasan.

Setting: shutter speed 1/8; aperture f/5,3; ISO 400
Setting di atas sebenernya menghasilkan gambar yang agak gelap. Untuk membuat lebih terang bisa aja dilakukan dengan menurunkan shutter speed namun aku lebih memilih minta bantuan lampu senter daripada menurunkan shutter speed. Sebab, menurunkan shutter speed akan membuat rentan terhadap goncangan saat kita mencet shutter, kecuali pake tripod... ^_^

Well... para gipret-er pemula.. selamat bereksperimen yaaa.... ^_^

*1 Sumber: Enche (infofotografi.com) 

Wednesday, May 23, 2012

Fotografiku: Being Obsessed with A Macro Lense

Lensa makro.. Sebenernya ini ndak jauh dari hal yang membuatku jatuh cinta pertama kali sama DSLR dan dunia fotografi yaitu shoot objek dengan background nge-blur. Ya... aku terobsesi untuk motret obyek-obyek yang cukup kecil, background ngeblur, make them appear so exclusive and special. Untuk itu, aku.. seharusnya.. mmm... butuh lensa makro.. Tapi apa daya, masih ada mata anggaran belanja yang laen yang lebih penting.. apalagi harga lensa makro juga lumayan..mm.. mahal... :sweaty:


Objek dan ide foto kadang2 muncul dengan cueknya. Di halaman depan rumah, belakang rumah, di jemuran..pokoknya dimana aja. Serangga2 kecil selalu menarik perhatianku. Dan..sayang rasanya jika tidak aku terlewat untuk meng-capture-nya. Berbekal lensa standar (AF-S 18-55mm, f/3.5-5.6), aku nekat untuk menjepretnya. Berharap bisa mendapatkan taste lensa makro, zoomnya aku pake yang paling deket dan harus menggeser switch autofocus mode ke mode manual untuk mendapatkan hasil yg optimal karena mode fokus auto seringnya ga jalan bila objek fotonya terlalu dekat. Agak maksa memang, tapi ya mo gimana lagi.. jelir Yang bikin aku kesal tuh, kadang2 efek samping dari mode manual sering muncul. 'Sense of focus'ku ga jalan, akibatnya gambar bukannya ngeblur backgroundnya tp malah ngeblur semua sengihnampakgigi Padahal rasanya waktu njepret tuh kayaknya dah fokus tapi begitu diliat hasilnya dan dizoom ternyata..ugh.. Biasanya juga ini terjadi karena faktor objeknya yang gerak2 terus.. *ngeles..hehe*


Sekali lagi, untung pake digital. Gagal atau ndaknya kita njepret bisa langsung diliat dan cepet2 diulang sampe dapet hasil yang terbaik sebelum momentnya hilang...:hahaha:(


Berikut ini hasil jepretan 'sok lensa makro' yang telah kuperbuat..


Hama cantik yang menyerang jambu airku.. ^_^

Big catch-nya laba-laba di balik daun kelengkeng pingpong..
Efek 'srunthul' kambing di jambu air yang baru dipangkas.
Lebah nangkring di tanaman pucuk merah.
Baru tau, ternyata belalang juga perlu ganti baju.. ^_^

Tuesday, April 24, 2012

Fotografiku: Masih Serba Auto



SLR (Single Lens Reflex).... Pertama kali jatuh cinta sama kamera ini saat melihat kakak kosku ikutan diklat fotografi yang diadakan UKM fotografi Himafo (Univ. Negeri Malang) yg waktu itu diiisi sama fotografer majalah Femina (aku lupa namanya). Begitu terkesan dengan foto close-up dengan background yang nge-blur.  Hobi fotografi waktu itu tergolong mahal. Perkakasnya aja nilainya jutaan, belum lg kalo perlu gonta-ganti lensa menyesuaikan kondisi objek. Sampe ada temen yg ngakalin lensa standar dengan cara dibalik terus diselotip di body demi untuk mendapatkan fungsi lensa makro... :-p


Baru lensa aja tuh, belum pernak-pernik lainnya macam lampu flash alias blitz, tripod, filter, light-meter dan lain2nya.  Media penangkapnya masih pake negatif film yg ASAnya 100,200 & 400, menyesuaikan dengan kondisi obyek yg mo diburu. Untuk menikmati hasilnya mesti nyambangi studio foto buat laundry negatif film plus cetaknya. Belum lagi resiko film terbakar. Bayangin aja abisnya berapa duit tuh setiap kali hunting? :p
Menyimpan SLR pun perlu perlakuan khusus, mesti pake dry box yang harganya lumayan menguras kantong. SLR harus terbebas dari udara lembab yang bisa menumbuhkan jamur. Dry box ini bisa dimodifikasi dengan cara beli tempat kedap udara semacam tupperware dan silica gel elektrik yg rechargeable dan tentu saja kita mesti rajin2 menengok silica gelnya jangan sampe berada di posisi wet dalam tempo yg terlalu lama. Lumayan merepotkan ya?! Pun begitu, aku punya dendam kesumat, kalo punya tabungan banyak, aku mo beli kamera SLR... hehe...



Saved by "Digital" and “Automatic Mode”


Seiring perkembangan zaman, teknologi digital pun mulai merambah kamera SLR. Kamera SLR pun berevolusi menjadi kamera DSLR alias Digital Single Lens Reflex. Berbagai kemudahan memotret bisa diperoleh dengan alat yg satu ini termasuk kemudahan “biaya”, karena untuk menikmati hasil bidikan, kita ga perlu susah2 lg ke studio poto, cukup pencet tombol  play ajah...  hehe.. 




Pertama kali pegang DSLR rasanya deg2an seneng meski pinjeman. Percobaan pertama, try to play with lens focus, bikin efek blur bacgroundnya. Dan yang jadi korban bidikan adalah koleksi CD. Setting masih serba otomatis alias anti goblog (istilah ini dulu dipake untuk kamera poket yg settingannya serba ostosmastis termasuk fokusnya :p), pemula masih blm berani nyoba yg macem2 apalagi kameranya pinjeman. Dan hasilnya bisa njenengan intip di bawah ini..



Komposisi warnanya cukup nggilani bukan?!? :p Untuk menutupi malu, akhirnya tu poto kupoles2 pake photoshop..hehe..


Suatu hari, aku dapat kesempatan berkunjung ke salah satu kabupaten yg lumayan eksotis di Sulawesi Tengah. Harus punya DSLR nih, pikirku. D3100.... senjata jepret keluaran 2010 ni akhirnya kulirik... kamera kelas menengah dengan spesifikasi yg lumayan untuk pemula. Kualitas video sudah HD dan ada live preview (motret tanpa perlu ngintip).

Eksperimen selanjutnya kulakukan pada flash dan ISO. Setting diputer kalo ga di posisi auto ya tanpa flash. Memasrahkan pengaturan bukaan (aperture) dan shutter speed pada automatic mode. Belum berani maen pencet tombol yang laen.. hehe.. :p

Dan hasilnya seperti ini...
Teras belakang sebuah hotel di Luwuk, Sulawesi Tengah

Semakin lama bereksperimen dengan flash dan ISO, built-in flash kamera ini kurasakan semakin menyebalkan... Entahlah, apa karena aku yg ga bisa menemukan timing yg tepat untuk memakainya ya?! Akhirnya untuk obyek yg pencahayaannya kurang, untuk saat ini aku lebih suka maen di ISO yang tinggi atau bikin nuansa yang “gelap” sekalian. Pengen banget beli flash tambahan, mudah-mudahan segera terkabul.. ^_^

Saturday, May 23, 2009

Dolanan Tradisional Anak-Anak (1)

Abad 21 identik dengan kecanggihan teknologi dan komputerisasi termasuk di dunia mainan anak-anak. Pasti anda ndak asing sama yg namanya Play Station, Xbox, Nintendo, PSP apalagi kalo nyentuh makhluk yg namanya komputer...Age of Empire, Stronghold Cruisader, Wedding Dash bahkan kalo belom marem juga langsung kutak kutik software pemrograman... bikin game ndiri.
Nggak munafik, aku ndiri juga tergila-gila ma teknologi. Tapi nggak ada salahnya kan kita menengok ke belakang sebentar, menggali kembali mainan2 tempo doeloe yg agaknya mulai jarang dimainin anak-anak abad 21. Lempar karet, lompat tali, bendan ato engklek, gim2an, dan masih banyak lagi yg lain.
Kadang aku merasa untuk urusan mainan begini anak kecil jamanku dulu lebih kreatif bila dibanding anak kecil sekarang. Mungkin ini karena keterbatasan sarana, juga hiburan. Jangankan game watch, stasiun TV jaman dulu yg ada cm TVRI. Yang punya TV berwarna pun bisa diitung pake jari.

Curhat kali ini mbahas tentang mainan-mainan ndeso masa kecilku yg pake nyanyian dulu aja. Karena klo mo bahas semua sekarang bakalan panjang dan aku bakalan bingung nulisnya gimana he he. Mainan yg pake nyanyian biasanya dimainkan lebih dari 3 anak. Bisa dikatakan permainan ini merupakan sarana bagi anak-anak untuk bersosialisasi dengan temen-temen sebayanya. Bahkan ada sebagian permainan yg mendidik anak-anak untuk bertindak jujur dan fair, saling menghargai satu sama lain. Dan, syair lagunya biasanya membentuk seperti pantun, berima, bahkan kadang artinya nggak nyambung satu sama lain.

Gong-gong Bolong 

Gong-gong bolong...ah kangen juga ma mainan yg satu ini. Aku dulu sering main sama keponakanku, entah mereka sekarang masih ingat apa nggak. Mainan ini bisa diklasifikasikan untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun karena sangat sederhana. Sesederhana permainan ciluk baa, hanya perlu sedikit waktu untuk menghafal nyanyiannya ^_^ dan, tidak ada kalah dan menang dalam permainan ini.
3 anak atau lebih duduk berhadapan membentuk lingkaran, salah satu anak mengulurkan tangan, menempelkan genggaman tangan kiri di lantai dg jempol menjulur ke atas, tangan kanan menggenggam jempol kiri yang terulur, disambung genggaman tangan temen-temen yg lain sehingga membentuk semacam menara genggaman tangan. "Menara" td digoyang-goyang sambil bernyanyi:
gong-gong bolong
adu merak adu sapi

mecaho ndogmu siji

nek gak pecah tak thuthuki

thok..thok..pyorrr..


terjemahannya:

gong-gong bolong
adu merak adu sapi
pecahkan telurmu satu
kalo tidak pecah biar aku yg memukuli
tok..tok..pyorr..


sembari mengucapkan thok.. thok..., "menara" diayun ke atas bawah, mengetuk-ngetuk lantai. Pas kata "pyorrr", "menara" tadi dilepas seolah seperti telur yg pecah. Telapak tangan masing-masing anak ditelungkupkan di lantai. Salah satu anak bertindak sbg pemimpin permainan ini. Biasanya yg tangannya paling bawah di menara td (disini biasanya aku berperan he he). Dia menggoyang-goyang punggung telapak tangan temen-temennya secara berurutan menggunakan ujung jarinya (bahasa Jawa: unyek2) sambil bernyanyi:
unyek-unyek beranti
ono bebek pinggir kali

nyucuki wader pari

kok lunyu dalan iku

lunyu maneh mari udan

kok ayu arek iku

ayu maneh mari dandan

Terjemahannya:

Unyek-unyek beranti
ada bebek (di) pinggir sungai
mematuk-matuk (ikan) wader (dan) padi
kok licin jalan itu
(lebih) licin lagi sehabis hujan
kok cantik anak itu
(lebih) cantik lagi sehabis dandan

sampai akhir bait ini, siapa yg kena unyek2 tadi telapak tangannya diangkat sama pemimpin permainan dan ditaruh diatas kepala sembari bilang:

cu..cuuit...jemblem..

dan tangan lainnya ditaruh di ketiak. Begitu seterusnya sampe sisa 1 peserta yg nggak kebagian "jemblem" td. Tugas dari anak yg nggak kebagian ini adalah nanyain masing-masing anak (aku biasanya sengaja menempatkan diriku di posisi ini :p), pertanyaannya kurang lebih seperti ini:

"sing mbok suwun iku opo?" ("yang ada di atas kepalamu itu apa?") *1

Temannya akan menjawab apa aja, sesukanya dia. Biasanya, akan menjawab salah satu nama penganan atau kue. Selanjutnya "kue" khayalan td diserahkan ke penanya dan penanya td akan berpura-pura memakannya. Tangan yg di atas kepala sudah turun, sisa yg di ketiak. Si penanya kembali melontarkan pertanyaan :

"sing mbok kempit iku opo?" ("yang kamu kempit itu apa?")

Temannya akan menjawab nama salah satu senjata dan menembakkan ke penanya tadi. Dan penanya akan berpura-pura mati dengan gaya jatuh yg dibuat selucu mungkin agar peserta permainan td tertawa. Kemudian dia bangun lagi dan menanyai anak selanjutnya. Begitu seterusnya sampai anak-anak yg posisi tangannya di kepala dan ketiak sudah ga ada lagi.
(Bersambung)

*1 Kata suwun atau nyuwun dalam bahasa Jawa berarti membawa barang diatas kepala; bisa juga berarti "terima kasih" atau bahasa sopan untuk kata "minta"

Monday, May 18, 2009

My 1st Blog


Alhamdulillah...setelah sekian lama penasaran sama makhluk yang namanya 'blog' akhirnya sempet juga menyentuhnya. Pertama kali tau blog dari tabloid2 komputer yang seliweran di agen koran n toko2 buku. Satu per satu tabloid n majalah dikumpulin, buku2 bertuliskan 'blog' disamber. Semakin dibaca kok keliatannya semakin menggoda karena menawarkan ke'narsis'an yg teramat sangat he he he


Referensi dah siaga 1 sampe bisa dipake bantal, tinggal dua lagi yg mesti disiapin: komputer n jaringan. Pada suatu hari...halah... suatu ketika datanglah rezeki nomplok dari Gusti Allah SWT yang membuatku mampu memiliki 'si putih' yang kusayang ini. Meski processor lebih minim dan body lebih bongsor dari apa yg kuharapkan tp ga pa pa lah aku cukup terhibur dg VGA GeForce 8400M yg nancep disitu, jd bisa install game sepuasnya... kikikikikk...
(dalam hati masih memimpikan beli netbook dg spec tinggi, ada ga yaa??? duitna mksdna :p)


Kembali ke topik, yg kedua, masalah jaringan. Tadinya disini cm ada warnet yg super lemot, jangankan bikin blog, mo buka e-mail aja luuuaaamanya minta ampun. Pencarian pun terus dilakukan mulai dr hunting keberadaan speedy di telkom sampe coba2 cari gprs yg murah meriah. Nemu jg sih gprs ekonomis cm ga mau nyebut merk ntar dikira promo :p
eh ndilalah.. tak lama kemudian gprs yg digadhang-gadhang tu peok dengan suksesnya. Yg ada gprs mahal dan sama sekali nggak meriah. Kemudian nglirik di warung2 makan, kuliat ada penampakan makhluk yang namanya hotspot. Akses cepat, kartunya dibilang mahal banget jg nggak, sebanding lah sama kecepatan aksesnya. Pertama mengkonsumsi ini cm dipake download2 software gratisan, mp3, mp4 n flv, belum kepikir untuk bikin blog. Lama2 muncul persoalan lagi, harga menu di warungnya lumayan meres kantong. Lama2 nge-net di tempat begituan kok rasanya dompet ini makin langsing aja. Finally...muncullah makhluk yg kutunggu-tunggu,tp aku ga mau kasih tau. Ntar ada yang niru.. he he


Dan...ladies n gentlemen...muncullah blog ini... taraaaaa... !!
* berlebihan yak?? :p *
Karena baru lahir, jd maaf klo isinya masih dikit ^_^


dan..pas di hari yg sama aku bikin ini, aku nglembar nang toko buku n agen koran...kok ya muncul aja makhluk2 lain sebangsa ini....yg wordpress lah, joomla! lah...... ni td baca majalah komputer lha kok diiming2i Typo3... haiyaaa...panganan opo maneh iki?? !@#$%^&*)?{@#$%^

Palu, 18 Mei 2009
ttd
Ida "masboy" Fatmawati