I'm Just An Ordinary Woman ^_^

Tuesday, September 22, 2015

My Grape World: Sambung Menyambung Batang Ijo (Mini Grafting)



Perbanyakan bibit secara vegetatif lebih banyak dipilih untuk memperbanyak tanaman anggur sebab karakter buah yg dihasilkan kelak relatif sama dengan induknya. Perbanyakan secara vegetatif yang dapat dilakukan pada tanaman angur antara lain: cangkok, stek (cutting) dan grafting. Dari ketiga model perbanyakan vegetatif tersebut, menurut saya, grafting merupakan bentuk paling ideal terutama untuk mengadaptasikan varietas-varietas dari luar negeri. Sebab, dengan grafting, entres (batang atas) dari batang varian impor disambungkan dengan varian lokal yang telah beradaptasi dengan lingkungan atau dengan varietas batang bawah (rootstock) yang tahan becek dan penyakit. Dengan demikian, persentase keberhasilan untuk membiakkan varian impor lebih besar bila dibandingkan dengan menanam "polosan" dalam bentuk cangkok ataupun stek.
Dari penulusuran di dunia maya, dijumpai beberapa model grafting. Berikut model grafting yang dikutip dari situs www.appleman.ca:

  • cleft grafting
cleft grafting merupakan model grafting dengan membuat celah (cleft) pada batang rootstock yang selanjutnya disisipkan entres didalamnya
kunci dari semua model grafting adalah layer kambium harus pas antara rootstock dengan entres  
Model lain dari cleft grafting (sumber: wikipedia)
  • bark grafting

Bark grafting merupakan model grafting dengan mnyisipkan entres pada kulit (bark) batang rootstock
  • whip and tongue grafting

whip and tongue grafting ini pada dasarnya mirip dengan clef namun model sayatannya yang berbeda
  • bridge grafting
Bridge grafting ini agak nggak umum. Saya juga baru tau pas baca sumber untuk bahan blog ini..hehe... Berdasarkan keterangan dari sumber, bridge grafting ini untuk menyelamatkan batang yang diserang hewan pengerat (tikus, rayap dll). prinsipnya sama dengan bark grafting, bedanya di bridge ini kedua ujung entres disisipkan pada kulit batang rootstock. 
  • bud (mata tunas) grafting
 Bud grafting ini ada dua model yaitu chip bud dan T-budding.
chip bud ini dilakukan dengan membuat sayatan pada rootstock menyerupai model sayatan pada bud entres. saya sudah pernah mencoba chip bud ini dalam rangka menyelamatkan bibit cutting impor.. dan gagal..hehe... Chip bud ini, menurut saya pribadi, sulit untuk membuat irisan yang pas pada entres maupun rootstock sehingga ketika disatukan masih terlihat celah yang membuat kambium tidak bisa menyatu.
T-budding ini dilakukan dengan menyayat kulit batang rootstock berbentuk huruf T. Potongan bud diselipkan pada sayatan tersebut dan selanjutnya dibalut dengan grafting tape. T-budding ini sepertinya lebih mudah dan lebih menjanjikan... Jadi ga sabar pengen mencobanya... hehe...


Teknik penyambungan lain yang juga diterapkan oleh sahabat-sahabat penggemar anggur adalah sambung susu dan mini grafting. Sambung susu merupakan teknik penyambungan dengan kondisi entres tidak dipotong. Jadi, penyambungan dilakukan dengan kondisi masih memiliki akar. Entres dipotong pada saat telah menempel sempurna pada rootstock. Teknik sambung susu ini juga banyak digunakan untuk menambah "kaki" pada pohon durian yang ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman karena suplai makanan dari akar yang melimpah. Sedangkan mini grafting pada prinsipnya menggunakan cleft grafting namun dilakukan pada batang yang masih hijau dan kecil. Jika sempat berselancar di youtube, ketikkan kata kunci "mini grafting" atau "green on green grafting". Disana ada panduan video lengkap langkah-langkah untuk melakukan mini grafting.

Dan.... belum komplit rasanya piara anggur tanpa menguasai ilmu grafting menggrafting ini. Bahan yang paling mudah didapat untuk praktik grafting adalah mini grafting, hanya membutuhkan rootstock dengan tunas yang tidak terlalu besar dan entres dari tunas yang tidak terlalu besar pula. Mini grafting ini juga dapat digunakan untuk memanfaatkan cabang-cabang muda yang biasanya dibuang dalam rangka pengaturan percabangan pohon anggur. Permasalahan dalam sambung pucuk ini cuma satu... ukurannya.. hehe...
Batang yang muda, ukuran yang kecil dan rapuh membuat saya harus ekstra hati-hati melakukan mini grafting. Yang perlu diperhatikan dalam mini grafting adalah pertama, gunakan batang yang sudah agak keras namun masih berwarna hijau, baik entres maupun rootstocknya. Ini akan mempermudah saat memasukkan entres ke dalam belahan batang roorstock. Kedua, pemilihan bahan ikat. Untuk bahan ikat ini bisa menggunakan grafting tape, suatu plastik dengan gulungan mirip isolasi selebar 1 inci yang digunakan khusus untuk grafting. Ada juga rekan-rekan hobiis anggur  yang hanya menggunakan plastik es lilin dan banyak yg berhasil... *ngiri*. Namun, disarankan menggunakan plastik dengan tekstur mirip grafting tape misalnya plastik wrap pembungkus makanan.

Sudah banyak entres yang jadi korban tangan saya dalam mempelajari mini grafting ini..hehe... Bahan pengikat yang digunakan mulai plastik es lilin, plastik wrap, grafting tape sampai akhirnya jatuh hati pada parafilm. Bahan plastik es lilin belum pernah menunjukkan hasil yang signifikan. Setiap memasuki hari ke-3, hasil grafting mulai layu (konon katanya ketika grafting telah melewati hari ke-3 dan masih segar berarti masih ada harapan :p). Graftingan nyaris berhasil ketika menggunakan plastik wrap dan grafting tape. Waktu itu dapat sumbangan entres varian palieri, karena ukuran entresnya besar saya mengorbankan prabu bestari saya untuk jadi rootstock. Bud sempat pecah dan bertunas. Namun ketika sungkup grafting dibuka, tunasnya mendadak layu dan kering semua berikut rootstocknya. Saya langsung patah hati... Tapi tidak menyerah. Grafting tetap dicoba dengan menggunakan grafting tape.. dan gagal terus.. sampe persediaan rootstock yang ada gundul semua...hehe...

Percobaan berikutnya mini grafting dengan menggunakan parafilm. Terinspirasi dari video mini grafting milik salah satu sahabat di grup anggur yang diposting di youtube. Parafilm merupakan bahan sealer yang biasa digunakan untuk menutup tabung reaksi, cawan petri atau wadah-wadah di laboratorium agar tidak terkontaminasi. Bahan parafilm ini lentur dan teksturnya agak lengket. Jadi, saat membalut sambungan grafting tidak perlu membuat ikatan/simpul, ujung tali cukup direkatkan saja. Mungkin ini yang membuat tingkat keberhasilan grafting lebih besar karena resiko sambungan berubah posisi jadi  lebih kecil. Bahan parafilm ini memang agak sulit ditemui, mungkin yang menyediakan adalah toko-toko penjual alat-alat laboratorium. Untungnya, saya menemukannya di salah satu toko online lokal. Harganya lumayan menguras kantong tapi cukup sebanding dengan hasilnya, karena saya baru berhasil melakukan grafting ketika menggunakan bahan ini.. hehehe...



    Langkah-langkah mini grafting menggunakan parafilm kurang lebih seperti ini:

    • Iris ujung entres berbentuk V dengan ujung lancip. Perhatikan posisi irisan dengan posisi mata tunas. Alat pemotong sebaiknya menggunakan silet untuk alat cukur yg dipatahkan jadi dua. Selain lentur, silet ini juga tajam sehingga entres maupun batang rootstock tidak memar.

    • Belah batang rootstock, bisa dibelah biasa tapi lebih bagus dibelah dengan membentuk huruf V untuk menghindari memar/resiko tertekuk saat entres disisipkan. Saya pribadi lebih memilih belah biasa karena kalo belah V suka kebablasan motongnya..hehe... Cm ya gitu, harus ekstra hati-hati saat menyisipkan entres. 

    • Sisipkan entres pada belahan batang rootstock. Untuk rootstock, saya menggunakan anggur sejuta umat, isabella. Varian ini banyak dijumpai di tukang-tukang jual kembang/tanaman, sangat adaptif dengan iklim Indonesia dan relatif tahan banting. Perhatikan posisi bud entres dan bud pada rootstock. Usahakan posisi kedua bud tersebut berlawanan sisi (selang-seling), karenanya penting untuk memperhatikan posisi irisan V pada entres.

    • Bebat sambungan dengan menggunakan parafilm. Untuk bebat ini, potong parafilm dengan ukuran kurang lebih 3 x 1 cm, tarik parafilm tersebut sampai panjangnya mencapai kurang lebih 3x panjang semula dan bebatkan.

    • Setelah dibebat, bungkus entres dengan parafilm. Potong parafilm dengan ukuran 3 x 3 atau sesuaikan dengan panjang entres. Tarik parafilm tersebut dan balutkan ke entres sambil ditekan-tekan lembut agar nempel dan entres terbungkus sempurna.




    Dengan langkah-langkah tersebut, diperoleh hasil kurang lebih seperti ini. 
    • Entres black panther/cherna panthera nempel pada isabella. Dorongan pertumbuhan bud entres akan merobek bungkusan parafilm :)




    • Ini juga entres black panther. Mini grafting yang dilakukan bersamaan dengan foto di atas namun perkembangannya lebih lambat


    • Selanjutnya giliran autumn royal beraksi...  ^_^


    Kalau dulu semangat mencoba grafting karena bolak-balik gagal jadinya penasaran. Sekarang karena ada yang berhasil tumbuh jadi tambah semangat (baca: bernafsu) pengen mainan grafting terus...hehe... 

    Well... Selamat mencoba ;) 

    15 comments:

    1. matur nuwun... cuma berbagi pengalaman saja, om... :)

      ReplyDelete
    2. This comment has been removed by the author.

      ReplyDelete
    3. alternatifnya selain pake parafilm bisa ngga pake plastik okulasi?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bisa... tekstur plastik okulasi biasanya seperti plastik wrap untuk membungkus makanan. yang perlu diperhatikan dalam menggunakan plastik okulasi adalah saat pelepasan plastik tersebut yaitu saat sambungan telah melekat sempurna atau ketika sambungan agak keliatan "tercekik" karena batang mulai membesar. Kalau menggunakan parafilm, kita tidak perlu melepas bebatan sambungan karena dia akan robek sendiri ketika tumbuh calus dalam sambungan atau sambungan itu sendiri tumbuh membesar.. :)

        Delete
      2. Oh ya... klo menggunakan plastik okulasi, jangan lupa disungkup untuk mencegah agar entres tidak kering.. :)

        Delete
    4. apakah parafilm sama saja bahanya dengan plastik okulasi ?

      ReplyDelete
      Replies
      1. beda.. tapi ada juga parafilm yg bentuknya roll seperti plastik okulasi... :)

        Delete
    5. Sya mw tnya,brp lama smpai tumbuh tunas stelah grafting

      ReplyDelete
    6. Sya mw tnya,brp lama smpai tumbuh tunas stelah grafting

      ReplyDelete
    7. Sya mw tnya,brp lama smpai tumbuh tunas stelah grafting

      ReplyDelete
    8. Mantap....aku jadi pingin mencobanya....tq bro...

      ReplyDelete
    9. Kalo menurut sy hasil grafting itu lebih lambat pertumbuhannya dr pada stekan

      ReplyDelete