I'm Just An Ordinary Woman ^_^

Tuesday, September 22, 2015

My Grape World: Sambung Menyambung Batang Ijo (Mini Grafting)



Perbanyakan bibit secara vegetatif lebih banyak dipilih untuk memperbanyak tanaman anggur sebab karakter buah yg dihasilkan kelak relatif sama dengan induknya. Perbanyakan secara vegetatif yang dapat dilakukan pada tanaman angur antara lain: cangkok, stek (cutting) dan grafting. Dari ketiga model perbanyakan vegetatif tersebut, menurut saya, grafting merupakan bentuk paling ideal terutama untuk mengadaptasikan varietas-varietas dari luar negeri. Sebab, dengan grafting, entres (batang atas) dari batang varian impor disambungkan dengan varian lokal yang telah beradaptasi dengan lingkungan atau dengan varietas batang bawah (rootstock) yang tahan becek dan penyakit. Dengan demikian, persentase keberhasilan untuk membiakkan varian impor lebih besar bila dibandingkan dengan menanam "polosan" dalam bentuk cangkok ataupun stek.
Dari penulusuran di dunia maya, dijumpai beberapa model grafting. Berikut model grafting yang dikutip dari situs www.appleman.ca:

  • cleft grafting
cleft grafting merupakan model grafting dengan membuat celah (cleft) pada batang rootstock yang selanjutnya disisipkan entres didalamnya
kunci dari semua model grafting adalah layer kambium harus pas antara rootstock dengan entres  
Model lain dari cleft grafting (sumber: wikipedia)
  • bark grafting

Bark grafting merupakan model grafting dengan mnyisipkan entres pada kulit (bark) batang rootstock
  • whip and tongue grafting

whip and tongue grafting ini pada dasarnya mirip dengan clef namun model sayatannya yang berbeda
  • bridge grafting
Bridge grafting ini agak nggak umum. Saya juga baru tau pas baca sumber untuk bahan blog ini..hehe... Berdasarkan keterangan dari sumber, bridge grafting ini untuk menyelamatkan batang yang diserang hewan pengerat (tikus, rayap dll). prinsipnya sama dengan bark grafting, bedanya di bridge ini kedua ujung entres disisipkan pada kulit batang rootstock. 
  • bud (mata tunas) grafting
 Bud grafting ini ada dua model yaitu chip bud dan T-budding.
chip bud ini dilakukan dengan membuat sayatan pada rootstock menyerupai model sayatan pada bud entres. saya sudah pernah mencoba chip bud ini dalam rangka menyelamatkan bibit cutting impor.. dan gagal..hehe... Chip bud ini, menurut saya pribadi, sulit untuk membuat irisan yang pas pada entres maupun rootstock sehingga ketika disatukan masih terlihat celah yang membuat kambium tidak bisa menyatu.
T-budding ini dilakukan dengan menyayat kulit batang rootstock berbentuk huruf T. Potongan bud diselipkan pada sayatan tersebut dan selanjutnya dibalut dengan grafting tape. T-budding ini sepertinya lebih mudah dan lebih menjanjikan... Jadi ga sabar pengen mencobanya... hehe...


Teknik penyambungan lain yang juga diterapkan oleh sahabat-sahabat penggemar anggur adalah sambung susu dan mini grafting. Sambung susu merupakan teknik penyambungan dengan kondisi entres tidak dipotong. Jadi, penyambungan dilakukan dengan kondisi masih memiliki akar. Entres dipotong pada saat telah menempel sempurna pada rootstock. Teknik sambung susu ini juga banyak digunakan untuk menambah "kaki" pada pohon durian yang ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman karena suplai makanan dari akar yang melimpah. Sedangkan mini grafting pada prinsipnya menggunakan cleft grafting namun dilakukan pada batang yang masih hijau dan kecil. Jika sempat berselancar di youtube, ketikkan kata kunci "mini grafting" atau "green on green grafting". Disana ada panduan video lengkap langkah-langkah untuk melakukan mini grafting.

Dan.... belum komplit rasanya piara anggur tanpa menguasai ilmu grafting menggrafting ini. Bahan yang paling mudah didapat untuk praktik grafting adalah mini grafting, hanya membutuhkan rootstock dengan tunas yang tidak terlalu besar dan entres dari tunas yang tidak terlalu besar pula. Mini grafting ini juga dapat digunakan untuk memanfaatkan cabang-cabang muda yang biasanya dibuang dalam rangka pengaturan percabangan pohon anggur. Permasalahan dalam sambung pucuk ini cuma satu... ukurannya.. hehe...
Batang yang muda, ukuran yang kecil dan rapuh membuat saya harus ekstra hati-hati melakukan mini grafting. Yang perlu diperhatikan dalam mini grafting adalah pertama, gunakan batang yang sudah agak keras namun masih berwarna hijau, baik entres maupun rootstocknya. Ini akan mempermudah saat memasukkan entres ke dalam belahan batang roorstock. Kedua, pemilihan bahan ikat. Untuk bahan ikat ini bisa menggunakan grafting tape, suatu plastik dengan gulungan mirip isolasi selebar 1 inci yang digunakan khusus untuk grafting. Ada juga rekan-rekan hobiis anggur  yang hanya menggunakan plastik es lilin dan banyak yg berhasil... *ngiri*. Namun, disarankan menggunakan plastik dengan tekstur mirip grafting tape misalnya plastik wrap pembungkus makanan.

Sudah banyak entres yang jadi korban tangan saya dalam mempelajari mini grafting ini..hehe... Bahan pengikat yang digunakan mulai plastik es lilin, plastik wrap, grafting tape sampai akhirnya jatuh hati pada parafilm. Bahan plastik es lilin belum pernah menunjukkan hasil yang signifikan. Setiap memasuki hari ke-3, hasil grafting mulai layu (konon katanya ketika grafting telah melewati hari ke-3 dan masih segar berarti masih ada harapan :p). Graftingan nyaris berhasil ketika menggunakan plastik wrap dan grafting tape. Waktu itu dapat sumbangan entres varian palieri, karena ukuran entresnya besar saya mengorbankan prabu bestari saya untuk jadi rootstock. Bud sempat pecah dan bertunas. Namun ketika sungkup grafting dibuka, tunasnya mendadak layu dan kering semua berikut rootstocknya. Saya langsung patah hati... Tapi tidak menyerah. Grafting tetap dicoba dengan menggunakan grafting tape.. dan gagal terus.. sampe persediaan rootstock yang ada gundul semua...hehe...

Percobaan berikutnya mini grafting dengan menggunakan parafilm. Terinspirasi dari video mini grafting milik salah satu sahabat di grup anggur yang diposting di youtube. Parafilm merupakan bahan sealer yang biasa digunakan untuk menutup tabung reaksi, cawan petri atau wadah-wadah di laboratorium agar tidak terkontaminasi. Bahan parafilm ini lentur dan teksturnya agak lengket. Jadi, saat membalut sambungan grafting tidak perlu membuat ikatan/simpul, ujung tali cukup direkatkan saja. Mungkin ini yang membuat tingkat keberhasilan grafting lebih besar karena resiko sambungan berubah posisi jadi  lebih kecil. Bahan parafilm ini memang agak sulit ditemui, mungkin yang menyediakan adalah toko-toko penjual alat-alat laboratorium. Untungnya, saya menemukannya di salah satu toko online lokal. Harganya lumayan menguras kantong tapi cukup sebanding dengan hasilnya, karena saya baru berhasil melakukan grafting ketika menggunakan bahan ini.. hehehe...



    Langkah-langkah mini grafting menggunakan parafilm kurang lebih seperti ini:

    • Iris ujung entres berbentuk V dengan ujung lancip. Perhatikan posisi irisan dengan posisi mata tunas. Alat pemotong sebaiknya menggunakan silet untuk alat cukur yg dipatahkan jadi dua. Selain lentur, silet ini juga tajam sehingga entres maupun batang rootstock tidak memar.

    • Belah batang rootstock, bisa dibelah biasa tapi lebih bagus dibelah dengan membentuk huruf V untuk menghindari memar/resiko tertekuk saat entres disisipkan. Saya pribadi lebih memilih belah biasa karena kalo belah V suka kebablasan motongnya..hehe... Cm ya gitu, harus ekstra hati-hati saat menyisipkan entres. 

    • Sisipkan entres pada belahan batang rootstock. Untuk rootstock, saya menggunakan anggur sejuta umat, isabella. Varian ini banyak dijumpai di tukang-tukang jual kembang/tanaman, sangat adaptif dengan iklim Indonesia dan relatif tahan banting. Perhatikan posisi bud entres dan bud pada rootstock. Usahakan posisi kedua bud tersebut berlawanan sisi (selang-seling), karenanya penting untuk memperhatikan posisi irisan V pada entres.

    • Bebat sambungan dengan menggunakan parafilm. Untuk bebat ini, potong parafilm dengan ukuran kurang lebih 3 x 1 cm, tarik parafilm tersebut sampai panjangnya mencapai kurang lebih 3x panjang semula dan bebatkan.

    • Setelah dibebat, bungkus entres dengan parafilm. Potong parafilm dengan ukuran 3 x 3 atau sesuaikan dengan panjang entres. Tarik parafilm tersebut dan balutkan ke entres sambil ditekan-tekan lembut agar nempel dan entres terbungkus sempurna.




    Dengan langkah-langkah tersebut, diperoleh hasil kurang lebih seperti ini. 
    • Entres black panther/cherna panthera nempel pada isabella. Dorongan pertumbuhan bud entres akan merobek bungkusan parafilm :)




    • Ini juga entres black panther. Mini grafting yang dilakukan bersamaan dengan foto di atas namun perkembangannya lebih lambat


    • Selanjutnya giliran autumn royal beraksi...  ^_^


    Kalau dulu semangat mencoba grafting karena bolak-balik gagal jadinya penasaran. Sekarang karena ada yang berhasil tumbuh jadi tambah semangat (baca: bernafsu) pengen mainan grafting terus...hehe... 

    Well... Selamat mencoba ;) 

    Saturday, June 6, 2015

    Fotografiku: My Click - Flora.....

    Bagi saya pribadi, memotret flora relatif mudah karena objeknya statis. Hanya saja masih perlu melatih sense. Ide memotret flora ini kadang datang begitu saja. Kebanyakan muncul saat saya mematut2 perkembangan tanaman-tanaman piaraan di rumah. Tunas-tunas mereka saat mau merekah terlihat sangat eksotis. Bila dibandingkan dengan hasil karya temen-temen yang sudah eksis di medsos, jepretan saya ini rasanya masih kurang. Terutama yang berbau makro... ugghhh... kapan ya bisa punya lensanya... hehe....
    Kali ini saya ingin membeberkan beberapa hasil jepretan sederhana saya disini, beberapa mungkin sudah pernah saya upload di medsos. Dan, menerima segala bentuk kritik dan saran dari netizen semua... ^_^
    Bangkit dari Keterpurukan
    note: ide ini muncul saat ada surprise dari Gusti Allah. Anggur varian Isabella
    yg kukira sudah mati ternyata berseni kembali :)
    Let's Grow Together
    Note: tunas lemon ini adalah wujud keprihatinan terhadap mahalnya harga lemon di pasaran padahal manfaatnya sangat banyak. Harusnya pemerintah kasih subsidi untuk komoditas ini.. (iki ngemeng epe to?! :p)

    Bengkuwang...just that...
    Note: foto ini untuk mengabadikan kelupaan saya atas bengkuwang yg dikasih adek..hehe...
    new hope...
    Note: foto tunas jambu king rose setelah digunduli... berharap ada bunga yg muncul...
    (padake anggur wae, digunduli dhisik lagek ngembang.. :p)

    Monster's Mouth Outlook..
    Note: dengan bantuan lampu senter, penampakan tunas anggur varian Red Flame jd terlihat kayak mulut monster tumbuhan.... (perasaanku aja seh... kalo situ nganggepnya ga mirip ya ga papah.. hehe...)

    New Hope II
    Note: tunas red globe malta

    Wednesday, January 7, 2015

    My Grape World: Amazing!!


    Amazing!!... That's the only word that could described what I felt when I saw the flower of my Japanese variety grape, Pione, for the first time. Many friends in FB Grape Lover Group complaining that Japanese varieties was hard to plant in Indonesia. It was need some special treatment like the use of some "booster" to make them grow well. Some say that was about the difference of weather between Indonesia and Japan. But I doubt it. Many of them able to plant grape varieties from Europe. I guess the difference of weather between Indonesia and Europe is more extreme than Japan, isn't it?!
    I don't know what the problem of planting Japanese varities exactly is. The soil?! The weather?! Like the line that always said in Shakespeare In Love  movie.... -It's mystery-
    Alhamdulillah... My Pione grows quite well. It was bought approximately 8 months ago on bareroot form. I planted it on media that consist of soil, sand and compost. The growth of it can be seen on pictures below.

    Fresh from Japan.. 




    spread the leaves....

    The leaves turn green...


    grow.. and grow....

    need a shoulder...

    grow straight right now...
    Taller... and taller...
    Hey, look.... a flower...
    and again....

    and again....

    Tuesday, January 6, 2015

    My Grape World: Merawat Cutting Anggur.. Ngeri-ngeri Sedapp..

    Pertama kali belajar piara anggur, bentuk bibit yang digunakan adalah cutting alias stek. melihat penampakan cutting, sekilas terbayang stek pohon singkong. Setelah berkomunikasi dengan seller, cutting anggur ditancapkan di polibag dan batangnya ditutup plastik es lilin. Katanya itu bertujuan agar cutting tetap lembab. Saya tunggu 3-4 hari kok tidak ada tanda-tanda sprout itu tunas. "Lembab"... sepertinya itu kuncinya. Akhirnya saya pake resep perlakuan stek warisan keluarga.... dimasukin kamar mandi. Jaman dulu, bapak juga mas-masku kalo mo tanam singkong, cutting disimpan di kamar mandi lebih dulu baru ditancep ke tanah..hehe...
    Alhasil, 10 cutting yang kubeli sprout semua... hatiku pun berbunga-bunga. Komunikasi pun dilakukan lagi dengan seller, kira-kira apa yang harus dilakukan ketika cutting sudah mulai bertunas. Jawabannya, harus mulai dilatih untuk dikenalkan dengan sang mentari. Oke.. si anggur pun dijemur 2-3 jam pada pagi hari. Hari demi hari tunas terus tumbuh. 
    Suatu ketika, saya ada penugasan ke luar kota. Suami yang mengasuh cutting di rumah memberikan laporan kalo tunasnya mendadak layu... Olala.... 
    Apa yang salah ya?! Suamiku pun juga bingung. Padahal tu cutting begitu trubus dan sehat.
    Singkat cerita, saya bergabung dengan grup di jagad facebook, tempat berkumpul para penggemar tanaman anggur. Disitu saya curhat tentang apa yang sudah saya alami. Rupanya ada yang salah pada media tanam yang aku gunakan. Penggunaan pupuk kandang (pukan) yang belum matang sempurna untuk campuran media semai cutting sangat tidak dianjurkan. Waktu itu, saya menggunakan pukan pupup kambing, butiran-butiran pupupnya belum terurai sempurna. Wis... sejak saat itu kapok pake pukan buat semai cutting. Cukup pake campuran tanah sama pasir saja.
    Berlatih merawat cutting terus saya lakukan. Dengan mengikuti dua grup tanaman anggur membuatku kaya akan macam-macam pengetahuan tentang metode semai cutting. Disini saya coba uraikan beberapa metode semai tersebut sebagaimana yang di-share  rekan-rekan di grup PTA dan BDTA:

    • Semai dengan cocopeat
    Cocopeat merupakan serbuk yang terbuat dari sabut/kulit kelapa. Cocopeat kadang digunakan untuk campuran media tanam (metan) maupun kompos. Metode semai dengan cocopeat ini dilakukan dengan cara dipendam. Prosedur umum di semua metode semai cutting adalah cutting harus direndam pada air bersih selama 24 jam (jangan menggunakan air PDAM/air berkaporit). Bungkus cocopeat pada selembar kain. Siram dan peras cocopeat tersebut beberapa kali sampai air berwarna bening. Pada bilasan terakhir, peras cocopeat sampai tidak ada air yang menetes (tekstur cocopeat lembab). Cutting yang telah direndam air dicelup fungisida dan diberi perangsang akar pada bagian pangkalnya. Perangsang akar bisa menggunakan produk-produk yang dijual di toko pertanian seperti root-up, rooton F, growtone, clonex atau lainnya, bisa juga menggunakan bahan-bahan alami seperti sebuk kayu manis atau air bawang merah. Selanjutnya, masukkan cocopeat dalam kantong plastik dan pendam cutting di dalamnya. Buat lubang-lubang pada plastik untuk sirkulasi udara. Dan bongkar pendaman cutting kurang lebih setelah 1-2 minggu (biasanya nampak akar sudah mulai muncul di plastik). Secara pribadi, saya belum pernah mencoba metode ini. Namun saya pernah ikut group buy bibit dan bibit yang diterima dalam kondisi telah dipendam dalam cocopeatMenurut penilaian saya pribadi, timing untuk membongkar pendaman ini yang harus diperhatikan. Karena jika terlalu lama, mata tunas (bud) yang sudah mulai sprout bisa rusak. Waktu itu, bibit yang saya terima budnya sudah mulai sprout setelah 1 minggu tetapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan akar sehingga saya tunda barang 2-3 hari untuk dipindah ke metan. Alhasil tunasnya pun rusak alias nyenyet... Tetapi metode ini berhasil untuk cutting manicure finger yang dibeli dari Tiongkok.

    Buntelan cocopeat berisi cutting anggur


    • Semai dengan air dan arang
    Beberapa rekan di grup menggunakan metode semai air dan arang ini, namun ada pula yang tidak menganjurkannya. Metode semai dengan air ini kesulitannya adalah mengadaptasikannya ke dalam media tanah. Metode semai ini dilakukan dengan cara mengisi wadah plastik (bisa menggunakan gelas air mineral atau lainnya) dengan air bersih non kaporit dengan tinggi permukaan air 1-2cm. Letakkan cutting pada wadah tersebut dan masukkan sebongkah kecil arang. Fungsi arang ini agar air tidak keruh. Tunggu sampai cutting tumbuh akar, selanjutnya pindah ke metan biasa di pot atau polibag. Letakkan polibag atau pot tersebut di tempat teduh sampai pertumbuhan cutting stabil. Setelah itu, bisa dimulai utuk dikenalkan pada sang mentari.
    • Semai single bud
    Semai single bud ini pada dasarnya menggunakan metode semai dengan air. Bedanya, cutting yang disemai dipotong lebih pendek dan hanya menyisakan satu bud. Isi wadah dengan air bersih (bisa juga diberikan sedikit air bawang merah untuk merangsang pertumbuhan akar), ikat cutting dengan benang dan masukkan dalam wadah dalam posisi menggantung dan pangkal cutting tercelup air sepanjang kurang lebih 1 cm.  Letakkan wadah tersebut di tempat yang gelap (bisa diletakkan di wadah yang lebih besar dan ditutup). Kondisi gelap konon lebih menstimulasi pertumbuhan akar. Bila tunas tumbuh lebih dulu, cutting bisa mulai dikenalkan mentari pagi agar berfotosintesis dan menstimulasi tumbuhnya akar. Frekuensi sinar matahari ini jangan terlalu banyak karena akan membuat tunas layu. Setelah akar tumbuh, baru dipindahkan ke pot atau polibag. Metode single bud ini dapat memperbanyak bibit terutama untuk bibit impor karena 1 cutting bisa dipotong-potong menjadi 3-4 bibit. Saya pernah mencoba semai model ini. Cukup bikin stres..hehe...  
    Metode semai ini membutuhkan waktu lebih lama dan kans bud untuk sprout juga kecil. dari 10 cutting yang saya semai, hanya 3-4 yang budnya sprout dan butuh waktu mungkin lebih dari 1 bulan untuk menunggu akarnya tumbuh. Dari 3-4 bud yang sprout, hanya 1 yang akarnya berhasil tumbuh. Itupun mati setelah dipindah ke pot... hehe.... Pokoke ga sukses lah... :p
    Semai single bud di gelas air mineral yang diletakkan di box sterofoam

    • Semai dengan media biasa (tanah dan pasir)
    Model semai konvensional ini masih menjadi favorit saya. Cutting yang sudah ditreatment dengan fungisida dan perangsang akar ditanam pada polibag atau pot dan disungkup. Jika pada prolog tadi menggunakan bungkus es lilin, maka kali ini saya lebih prefer disungkup semuanya, sak pot-potnya dibungkus. Pot diberi rangka kawat agar plastiknya nggak nyenggol cutting dan usahakan plastiknya transparan agar bisa memantau pertumbuhan tunas. Yang masih membuat saya galau dengan metode semai ini adalah pertumbuhan akar yang kurang bisa dipantau. Biasanya yang terjadi pada semai cutting meliputi 2 hal, akar tumbuh lebih dulu atau tunas tumbuh lebih dulu. Kalau tunas tumbuh lebih dulu tanpa diimbangi dengan pertumbuhan akar, yang terjadi adalah ketika tunas mencapai tinggi 5 cm tiba-tiba layu. Ini pernah terjadi ketika saya menyemai bibit red globe dan white long malta. Sempet bikin jantung mo copot. Dan yang kulakukan adalah...nothing. Saya hanya memindah semaian ke dalam rumah. Tidak diapa-apakan lagi. Beberapa hari setelah itu, tunas-tunas tampak tumbuh lagi. Layunya daun-daun itu nampaknya karena kekurangan suplai makanan akibat akar belum tumbuh. Jadi, mesti punya kesabaran ekstra untuk menanti tumbuhnya akar.
    Sedangkan kalo akar tumbuh duluan, ini yang susah diprediksi kalo semai di pot. Pernah suatu ketika semai cutting yellow belgie (anggur kediri kuning) hasil BLT dari warga PTA. Secara kasat mata, nampaknya cuttingnya udah wassalam. Kondisinya kering kerontang. Karena ga sabaran, kucabut lah itu cutting. Ternyata akarnya gondrong jaya... arrghhh.... Sudah coba diselamatkan dengan menanamnya kembali dan menyiramnya dengan larutan Vitamin B1 tak jua bisa menolong.
    Ya sudah.. wassalam beneran deh..hehe...
    Untuk memantau pertumbuhan akar, menggunakan wadah transparan seperti gelas air mineral atau gelas pop es sepertinya perlu dipertimbangkan. Temen-temen di grup rata-rata menggunakan itu. Kemarin sudah pengadaan gelas pop es satu plastik dan sudah dibolong-bolong untuk persiapan kedatangan cutting dari Ukraina dan Jepang. Mudah-mudahan semai cutting kali ini bisa lancar jaya dan bisa tumbuh subur gemah ripah loh jinawi.... Aamiinnnn....
    Bentuk sungkup untuk semai konvensional pada pot
    *mirip parcel...hehe....


    Tuesday, September 30, 2014

    My Grape World: Bibit Anggur dari Biji, Kenapa Nggak?!


    Dalam iklim tropis seperti negara kita ini, tanaman anggur ini bisa dibilang agak unik. Mungkin karena nature-nya merupakan tanaman negara 4 musim, jadi segala sesuatunya perlu treatment khusus. Termasuk perbanyakan bibit secara generatif alias dari biji. Beberapa teman mengeluhkan susah sekali untuk membiakkan tanaman anggur dari biji, tetapi ada juga yang lempar-lempar biji di pot aja bisa tumbuh (tetanggaku bilangnya begitu, ditaruh di pot begitu aja sudah tumbuh. Bener2 beruntung..hehe.. tp sayang, selanjutnya pertumbuhannya kurang dijaga.. ^_^).

    Sementara pengalaman saya sendiri, sempet gemes juga membiakkan biji anggur ini. Pake rumus tetangga, dilempar-lemparin ke pot, ga tumbuh. Pake direndem sehari semalem, ga tumbuh juga. Terus dicelupin pemutih baju, tetep mogok. Akhirnya dari share informasi sama temen-temen grup dan ,tentu saja, bisikan dari mbah google, percobaan pembiakan biji yang ke sekian kalinya membuahkan hasil yang bisa dibilang cukup memuaskan.  Dari sekitar 50 biji yang disemai, sekitar 80% bisa sprout semua. Faktor yang agak mempengaruhi sepertinya masa dormansi biji. Di negara 4 musim, tanaman anggur mengalami masa dormansi atau "tertidur" ketika musim dingin tiba. 

    Untuk biji, terminologi dormansi ini lebih pada terhambatnya pertumbuhan embrio karena pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam biji. (sumber: wikipedia). Karenanya, untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan perkecambahan biji anggur ini diperlukan perlakuan-perlakuan khusus untuk mematahkan dormansi tersebut.
    Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menghambat dormansi antara lain:
    •  Dengan perlakuan mekanis
    Tujuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas. Diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, memecah kulit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus.
    •  Dengan perlakuan kimia
    Tujuan dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah. Bahan kimia lain yang sering digunakan adalah potassium hidroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat dan Thiourea. Selain itu dapat juga digunakan hormon tumbuh antara lain: Cytokinin, Gibberelin dan iuxil (IAA).
    •   Dengan perlakuan perendaman dengan air.
    Perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih. Caranya yaitu : dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu 60 - 70 0C dan dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu. Untuk benih apel, direndam dalam air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2 menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan.
    •   Dengan perlakuan suhu
    Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembap (Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan. Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman, bahkan antar varietas dalam satu famili.
    •   Dengan perlakuan cahaya
    Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari. 
    (sumber: wikipedia)

    Hasil sharing dengan teman-teman grup BDTA maupun PTA, langkah-langkah penghambatan di atas hampir semua pernah dilakukan untuk mengecambahkan biji anggur kecuali perlakuan cahaya. Perlakuan mekanis dilakukan dengan memotong ujung biji sekitar 2mm, perlakuan kimia dilakaukan dengan merendamnya dalam cairan pemutih baju, perlakuan perendaman air dilakukan pada air hangat dengan ditambahkan perangsang akar alami yaitu bawang merah, dan perlakuan suhu yang dilakukan dengan menyimpannya di lemari es. Dari langkah-langkah tadi, saya sudah mencoba menerapkan langkah 1 dan 2 tapi hasilnya belum memuaskan.

    Dengan mengandalkan penerawangan mbah google, saya komat-kamit menyebutkan kata "how to grow grape seed" dalam menyan mbah google. Hasil penerawangan mengarah ke situs wikihow. Dengan bekal hasil terawangan tersebut dan dipadu dengan tips temen-temen di grup BDTA dan PTA, saya melakukan percobaan dengan langkah berikut:



    • Kupas kulit ari biji anggur, bersihkan dan rendam selama 24 jam

    Pengupasan kulit ari

    • Tiriskan biji anggur dan tata di atas tissue yang sudah dibasahi.
    • Tutup tatanan biji tadi dengan tissue yang dibasahi (menyerupai sandwich isi biji anggur..hehe..)
    • Masukkan 'sandwich' tadi dalam plastik, tutup rapat dan simpan di lemari es (jangan disimpan di freezer) selama minimal 1 bulan.
    • Setelah 1 bulan, keluarkan biji dari 'sandwich' tadi dan rendam dalam air hangat selama 30 menit.
    • Selanjutnya rendam dengan air bawang merah selama kurang lebih satu jam, tiriskan dan pendam dalam cocopeat (serbuk kulit kelapa) lembab dan simpan dalam suhu kamar sampai biji sprout.
    • Kurang lebih selama 1 minggu, biji sudah sprout dan bisa dipindahkan ke media tanam di seed tray atau langsung di polibag.
    Biji anggur sprout dan siap disemai
    Dengan langkah eksperimen tersebut, prosentase perkecambahan biji mencapai 80%. Hanya saja, saya kurang mengerti faktor mana yang memicu keberhasilan perkecambahan tersebut, pengupasan kulit ari kah, penyimpanan dalam kulkas, perendaman air hangat ataukah perendaman air bawang. Selama eksperimen tersebut, ada sisa biji yang lupa ditreatment sampai kurang lebih 3 bulan tersimpan di lemari es. Kondisi biji tersebut sudah jamuran. Akhirnya saya buang-buang aja ke pot, ternyata malah banyak yang sprout... Wah! 

    Bibit anggur dari biji sering dinilai sulit untuk dibuahkan dan kalaupun berbuah berbed dengan varietas induk. Bagi hobiis yang menginginkan gen asli dari suatu varietas tentu menghindari pembibitan dari biji. Tetapi bagi hobiis yg ingin dapat surprise varietas baru tidak ada salahnya mencoba pembibitan biji ini. Mengenai sulitnya dibuahkan, Alhamdulillah..saya mempunyai pengalaman manis tentang itu. Pertengahan tahun 2012 saya membeli seed anggur varietas Pione dari seller di Banyuwangi. Seed semata wayang ini berhasil tumbuh subur setelah diground di halaman dan dalam waktu 1 tahun pohonnya udah gondrong kemana-mana. Saya mencoba untuk menerapkan rumus SPAP yang biasa dipake temen2 di grup. Tetapi rupanya saya salah dalam melakukan pemotongan/prunning. Berdasarkan contekan di grup maupun di youtube, batang yang kusisakan terlalu banyak. Saya terlalu sayang untuk memotongnya..hehe...

    Akhirnya, sekitar akhir Juli lalu, batang2 kembali dipangkas, disesuaikan dengan itung-itungan batang cordon, spur, etc (pola prunning dr videonya mr. Roy Carobnjak), meski dr segi jumlah bud sebenernya masih kebanyakan..hehe...

    Alhamdulillah... Meski ada kesalahan teknis dalam SPAP maupun prunning, akhirnya ada penampakan srinthil dari si Pione. Kini srinthil tersebut sudah berusia hampir 3 minggu. Mudah-mudahan varietasnya menyerupai atau lebih baik dari induknya.. Aamiinn..


    Jadi, tidak ada salahnya mencoba membibitkan anggur dari biji kan?!
    Selamat mencoba.. ^_^

    Monday, September 8, 2014

    My Grape World: Terjangkit Virus PengAnggurAn

    Anggur.... Entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta sama tanaman merambat yang satu ini. Yang jelas, saat ada yang pamer foto tabulampot anggur di sebuah akun blogspot, aku langsung kesengsem. Kebetulan si empunya blog ini supplier anggur di Banyuwangi. Pemiliknya lumayan komunikatif dan sangat welcome saat ditanya pernak-pernik merawat anggur. Tahap awal beli bibit dalam bentuk cutting (stek) 10 biji untuk jenis red prince (prabu bestari) dan 5 biji jenis maroo seedless. Tiap pagi ditengokin, begitu tunasnya sprout hati ini rasanya berbunga-bunga...hehe...

    Tumbuh kembang si red prince dan maroo ini semakin hari semakin baik. Namun saat ditinggal tugas luar kota, suami laporan kalo semua bibit cutting tiba-tiba layu, entah penyebabnya apa. Saat itu tinggi tunas sudah mencapai 30 cm-an.. hiks.. Kembali menjalin komunikasi dengan empunya blog. Diduga penyebabnya adalah pupuk kandang (pukan) dari pupup kambing yang masih berbentuk butiran2 alias belum terfermentasi sempurna.. Olala....

    Semakin penasaran dengan makhluk satu ini, pengadaan bibit pun dilakukan lagi. Kali ini mencoba dari biji. Sebab, untuk mendapatkan bibit cutting harus menunggu masa pemangkasan lebih dulu. Biji-biji tersebut merupakan varietas dari negeri sakura yang buahnya lumayan gede per butirnya. Sebagai percobaan awal, yang dibeli varietas Kyohoo, Pione, Oriental Star dan satunya lagi lupa..hehe... Dari petunjuk penyemaian di blog tersebut sepertinya mudah, tinggal direndam selama 24 jam terus disemai diatas tissue yang dibasahi dan ditaruh di wadah tertutup. Hasilnya.... dari 20 biji disemai, yang tumbuh cuma satu, si Pione.. alamakkkk.....

    Lumayanlah ada yang bisa dipiara. Tunas semata wayang, Pione, pun dipindah ke polibag. Beberapa minggu kemudian pertumbuhannya terlihat stagnan. Sepertinya butuh media yang lebih besar. Akhirnya diputuskan bibit pione ini di-ground atau ditanam di halaman saja. Setelah pindahan rumah, si pione pun di-ground. 

    Awal masa pasca ground sempet ketar-ketir. Rupanya baby pione ini menarik perhatian anak-anak kecil yang main-main di sekitar rumah. Entah karena gemes, bentuknya lucu atau apa, daun pione pun diprunthesi... hyaahh.... hahaha... Alhamdulillah, setelah diprunthes, pertumbuhan pione malah semakin ngacir. Sekarang usianya sudah hampir 2 tahunan. Pione sudah menunjukkan tanda-tanda mau berbuah walaupun cuma menghasilkan satu malai bunga saja. Karena konon kabarnya bibit dari biji susah untuk dibuahkan. Dan konon kabarnya pula, bibit dari biji bisa sama sekali berbeda dengan induknya. Mudah-mudahan saja hasilnya bisa lebih bagus dari induknya... Aamiinn...

    Malai bunga Pione -bibit dari biji-
    Setelah bergabung dengan grup tanaman anggur di facebook, referensi varietas dan teknik merawat anggur pun semakin banyak. Dan penyakit demam anggur yang kuderita pun semakin akut...hehe...Di grup ini para anggota saling berbagi informasi varietas, pengalaman, tips, dan  bibit anggur (thank you so much to my dear friends in BDTA and PTA, semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahanNya buat sahabat-sahabat semua). Berkat gabung di grup ini, koleksi pun bertambah. Jenis manicure finger, pione dan apirena seedless (baru aja sprout graftingannya) mulai menghiasi rumah. Sementara itu, varietas black magic masih harap-harap cemas, menunggu perkembangan hasil graftingan seminggu yang lalu. Saya tidak menyangka concern sahabat-sahabat terhadap tingginya buah impor di Indonesia ternyata begitu besar. Semoga grup ini menjadi langkah awal untuk meningkatkan produktivitas komoditas anggur yang unggul sehingga dapat mengurangi laju impor buah dan menambah lapangan kerja di Indonesia .. Aamiinn... 

    Monday, August 26, 2013

    Fotografiku: Mencoba Memahami Segitiga Emas Fotografi

    Beberapa artikel fotografi mengatakan bahwa inti dari fotografi digital adalah harmonisasi dari tiga komponen dalam kamera digital yaitu ISO, aperture (bukaan/diafragma) dan shutter speed (kecepatan pemetik/klik) atau lebih dikenal dengan segitiga emas fotografi*1. Bila membaca definisi dari masing-masing komponen tersebut, seorang penggemar fotografi pemula seperti saya ini sangat sulit untuk bisa mengejawantahkannya dalam praktik. Apalagi harus membaca kode-kode satuan dimana salah satu komponen tersebut ada yang kode satuannya terbalik yaitu aperture (f/1 = bukaan lebar; f/22 = bukaan kecil).
    Untuk memahami fungsi dari tiga komponen tersebut, ada sebuah artikel (saya lupa penulisnya siapa hehe...) menganalogikan kamera seperti sebuah kamar dengan satu jendela. Analogi ini benar-benar membantuku untuk memahami fungsi ketiga komponen tersebut.

    ISO
    Fungsi ISO ibaratnya seperti tingkat kegelapan kaca film yang digunakan jendela. Semakin rendah ISO maka semakin gelap kaca film yang digunakan.

    Aperture
    Fungsi aperture ibaratnya lebar tidaknya jendela. Semakin lebar jendela maka semakin banyak cahaya yang masuk. Fungsi lain dari aperture yang tidak bisa dianalogikan dengan jendela adalah depth of field (dof) atau lebar tidaknya ruang tajam dalam gambar. Bukaan aperture yang lebar akan mempersempit ruang tajam dalam gambar sehingga background objek akan semakin kabur (blur).

    Shutter Speed
    Fungsi shutter speed seperti kelambu yang ada di jendela. Ibaratnya seperti seberapa cepat kita membuka-tutup kelambu jendela tersebut. Semakin lambat kita membuka-tutup maka semakin banyak cahaya yang masuk ke kamar. Tujuan lain dari shutter speed ini adalah untuk menangkap pergerakan objek sesuai yang kita mau, apakah kita membekukan gerakan objek yang kita rekam (freeze) ataukah kita ingin ada bayangan gerakan objek (smooth).

    Untuk mengaplikasikan ketiga komponen ini, saya lebih suka menentukan prioritas komponen apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang kuinginkan. Misalnya, lagi hunting objek air terjun, aku menginginkan aliran air terjun tertangkap seperti kapas yang terurai dari atas. Maka prioritas fungsi komponen yang diperlukan adalah shutter speed yang rendah. Implikasi dari fungsi ini adalah melambatnya "klik" akan mengakibatkan banyak cahaya yang masuk dan gambar akan menjadi terlalu terang. Untuk mengurangi efek tersebut, dibutuhkan ISO yang paling rendah (100) dan aperture yang paling kecil (f/29). Hal lain yang perlu diperhatikan dalam kondisi ini adalah kamera harus steady, ga boleh goyang saat kita mencet shutter. Seandainya ada dana lebih, maka bisa melakukan pengadaan tripod dan shutter release (lebih asyik lagi yang wireless..hehe..). Saya pernah bereksperimen dengan ini dengan mencoba meng-capture aliran sungai di daerah wisata Grape, Kabupaten Madiun. Waktu itu siang bolong dengan cuaca cerah ceria penuh pesona... Ini agak menyulitkan karena cahaya objek melimpah ruah, padahal yang dibutuhkan adalah shutter speed lambat. Untungnya ada awan tipis yang sejenak melintas di atas kepala. Dengan settingan shutter speed 1/6, aperture f/25 dan ISO 100, kudapat lah hasil seperti ini.


    Jauh dari memuaskan.... Gambar terlalu bright dan aliran air kurang smooth. Ada yang miss saat aku memotret ini. Aku tidak tahu kalau kamera yang kupakai punya aperture paling kecil f/29... -_-
    Pun begitu, seandainya kupasang f/29 sepertinya masih kurang memadai untuk menghasilkan aliran air yang lembut karena aku masih harus menurunkan kecepatan shutter speed. Lain kali jika menghadapi kondisi seperti ini, kayaknya lensaku butuh "kacamata hitam" alias filter ND (neutral density) seperti yang disarankan seorang teman.
    *padahal cita2 beli lensa tele sama flash eksternal aja belum kesampean....hadehhh..... *

    Eksperimen yang kedua adalah efek "sok makro" seperti yang diulas di postingan sebelumnya. Bila sebelumnya saya kebanyakan mengambil obyek di luar ruangan, kali ini saya mencoba untuk memotret dalam ruangan. Yang menjadi "korban" kali ini adalah bengkoang yang (tak sengaja) bertunas. Prioritas utama adalah dof yang sempit alias aperture harus paling lebar. Tantangan motret dalam ruangan adalah noise karena ISO yang terlalu tinggi. Apabila diluar ruangan, aku bisa menggunakan shutter speed tinggi dan ISO paling rendah. Kalo dalam ruangan? tunggu dulu.. prioritas kedua setelah aperture adalah ISO. Untuk menghasilkan gambar yang halus, kuusahakan ISO tidak lebih dari 400. Langkah terakhir adalah men-setting shutter speed. Berikut hasil "sok makro" yg coba kupotret dengan "senjata"ku yang pas-pasan.

    Setting: shutter speed 1/8; aperture f/5,3; ISO 400
    Setting di atas sebenernya menghasilkan gambar yang agak gelap. Untuk membuat lebih terang bisa aja dilakukan dengan menurunkan shutter speed namun aku lebih memilih minta bantuan lampu senter daripada menurunkan shutter speed. Sebab, menurunkan shutter speed akan membuat rentan terhadap goncangan saat kita mencet shutter, kecuali pake tripod... ^_^

    Well... para gipret-er pemula.. selamat bereksperimen yaaa.... ^_^

    *1 Sumber: Enche (infofotografi.com)